23 May Langkah Tepat Perangi Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu kondisi kronis berupa tekanan darah di dalam arteri yang mengalami peningkatan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada dua kali pengukuran dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Tekanan darah sistolik atau yang sering juga disebut tekanan darah atas adalah tekanan darah yang terjadi pada saat otot jantung berkontraksi (mengencang dan menekan), sedangkan tekanan darah diastolik atau yang sering juga disebut tekanan darah bawah adalah tekanan darah yang terjadi pada saat otot jantung sedang beristirahat atau tidak berkontraksi. Hipertensi dikenal sebagai “pembunuh diam-diam” karena biasanya tidak ada gejala (asimptomatik). Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat menjalani pemeriksaan fisik karena alasan penyakit tertentu. Satu-satunya cara mengetahui apakah Anda memiliki hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah.

Hipertensi kini menjadi salah satu prioritas masalah kesehatan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Hasil analisis Kearney dkk dalam Global Burden Of Hypertension: Analysis Of Worldwide Data menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi meningkat dengan pesat. Pada tahun 2000 lebih dari 25% populasi dunia atau sekitar 1 miliar orang merupakan penderita hipertensi dan bila tidak dilakukan upaya yang tepat, maka diperkirakan bahwa jumlah ini akan terus meningkat hingga mencapai 29% atau sebanyak sekitar 1,6 miliar orang di seluruh dunia pada tahun 2025 yang akan datang. Di Indonesia sendiri, hipertensi merupakan penyakit yang sering ditemui, hal ini terbukti dari data Riset Kesehatan Dasar 2013 yang menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 25,8%.

Gejala hipertensi dapat bervariasi pada setiap individu dan dapat menyerupai penyakit lainnya seperti sakit kepala/rasa berat di tengkuk, vertigo, jantung berdebar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdenging dan mimisan. Hipertensi yang kronik juga dapat menyebabkan adanya komplikasi yang dapat menyerang berbagai organ tubuh seperti jantung (penyakit jantung koroner), otak (stroke), ginjal (gagal ginjal), mata (retinopati), dan arteri perifer (klaudikasio intermiten). Kerusakan organ tersebut bergantung pada tingginya tekanan darah dan berapa lama tekanan darah tinggi tersebut tidak dikontrol serta diobati.

Penyebab hipertensi sampai saat ini belum diketahui secara pasti pada lebih dari 90 kasus yang ada, namun peneliti memiliki beberapa dugaan yang bisa menjadi faktor risikonya. Beberapa faktor tersebut adalah: